Gambar lagi

Lama ga di up date, ya udah kasih gambar saja

gambarku

Iklan

Mushola

Dua orang dihadapanku begitu kaku, tanpa emosi sedikitpun. Meskipun mereka tersenyum, tapi aku tahu semua itu hanya basa basi belaka. Aku meletakkan sebuah amplop berwarna coklat di atas meja, lumayan tebal. Kau pasti bisa menebaknya apa isinya.

“Lakukan apa yang harus dilakukan. Aku mau semuanya selesai secepatnya.”

Dua orang itu menggangguk pelan. Salah seorang dari mereka meraih amplop diatas meja, kemudian mereka berlalu tanpa banyak bicara.

Jerit tangis para warga pemilik rumah saat satu persatu rumah mereka dirobohkan. Beberapa orang dengan putus asa melempari petugas dengan batu, kayu, atau apapun yang bisa diraih. Teriakan makian saling bersautan. Orang-orang berseragam maju bersamaan. Tangispun kian meledak, beberapa diseret memasuki mobil. Tatapan pilu yang begitu menusuk hati dari wajah-wajah tirus yang putus asa. Hanya bisa memunguti sisa-sisa dari puing-puing rumah mereka.

Dari jendela lantai tiga aku pengamati barisan mobil yang berderet rapi. Beberapa berjajar menunggu giliran menuju tempat parkiran. Di sudut sebelah barat sebuah bangunan berdiri. Terpisah dari bangunan utama berlantai tiga tempatku berdiri. Di bangunan itu terdiri dari kantin, toilet umum, dan mushola.

“ Tadi malam aku mengikuti pengajian, katanya amal ibadah yang tidak putus pahalanya ada tiga. Pertama doa anak sholeh, kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga amal jariyah. Di dunia ini cuma kamu keluargaku, berdoa buat dirimu sendiri aja ga pernah apalagi berdoa buatku saat aku mati. Jadi, kalo aku mati, tolong buatkanlah mushola di atas tanahku.”

Kek, janjiku kepadamu sudah aku penuhi. Bisa kau lihat disana? Itu mushola yang aku bangun untukmu. Memang mushola itu jauh lebih kecil dari pusat perbelanjaan ini, tapi itu sesuai keinginanmu untuk membangunnya diatas tanahmu sendiri. Kenapa pula kau wariskan tanah yang begitu sempit? Kek maafkan aku, terpaksa menggusur kuburanmu, mengusir tetangga-tetangga kita dulu. Kalau mushola aku bangun di kampung itu, aku takut tidak ada seorangpun yang akan beribadah didalamnya. Tanahmu terlalu kecil. Tapi lihat sekarang, musholamu tak pernah sepi. Setiap saat ada yang beribadah di dalamnya, meskipun aku tidak ikut didalamnya.

Sekarang Kakek bisa tenang diatas sana…..

SEPULUH

mawar-hitam1

PILIHAN

Suara adzan Subuh terdengar memecah heningnya pagi. Tak terasa sudah semalaman Aryo memacu motor menyusuri jalan. Ia memarkir motornya di depan mushola dekat pasar. Dibasuhnya muka dengan air wudhu. Dingin, bibirnya sedikit menggigil.

Ada ketenangan yang merasuk dalam hatinya setelah menunaikan sholat subuh. Perlahan rasa kesal dan kegundahan hatinya sedikit terkikis. Kekalutan pikirannya semakin mereda.

Aryo sengaja berlama-lama duduk di teras mushola sebelah pasar. Mencoba sejenak mengistirahatkan badannya setelah semalaman berkeliling tak tentu arah dengan sepeda motornya.

Tak sengaja ia melihat dua sosok berjalan beriringan menuju pasar. Seorang wanita dengan sebuah buntalan kain dipunggungnya. Sementara itu, sesosok lelaki kecil berjalan dibelakangnya. Tanpa beralas kaki, mereka berjalan menembus pagi. Mereka berjalan menuju pasar.

Sosok wanita itu segera menawarkan tenaganya untuk mengangkut barang belanjaan. Kuli angkut, begitulah orang memanggilnya. Tak peduli seberapa berat belanjaan, ia akan mengangkutnya. Meskipun tak sekaligus, biasanya bolak balik tiga sampai empat kali. Sepertinya ia sudah mempunyai pelanggan tetap. Semburat kelelahan terpancar di wajahnya. Usianya mungkin sudah 40an. Pastilah dia letih, mengangkut belanjaan yang kadang melebihi berat badannya.

Anak kecil yang bersamanya tadi, sibuk berkeliling. Menjajakan kantong plastik hitam pada pengunjung pasar. Sesekali ia membantu mengangkat barang belanjaan. Tak kenal lelah ia berjalan dari sudut ke sudut lain.

Anak itu berjalan mendekati ibunya yang sedang beristirahat di tangga pasar. Ia mengeluarkan sepotong roti dari balik bajunya yang lusuh. Sejenak ia memperhatikan roti itu, kemudian ia membaginya menjadi dua. Potongan besar ia berikan pada ibunya, dan potongan kecil untuk dirinya.

Sang ibu menerima roti itu. Ia kemudian membaginya lagi menjadi dua bagian. Sepotong ia makan, dan sisanya ia suapkan ke anaknya. Bocah itu tertegun. Sang ibu tersenyum, kemudian mengusap lembut rambut bocah laki-laki itu.

Aryo terisak melihat pemandangan itu. Ibu, begitu besar pengorbanan yang kau berikan untuk anakmu. Aryo terkenang kembali tentang perjalanan hidupnya. Begitu pahit saat mengingatnya kembali.

Ia teringat, betapa hebatnya emak melindungi dari kekejaman ayah kandungnya. Merelakan tubuhnya babak belur dihajar demi menyelamatkan dirinya yang masih kecil. Air mata itu, luka lebam itu, bahkan bibir yang pecah dan berdarah-darah, kini kembali terbayang.

Menggigil badan Aryo mengingat semua itu. Sejak saat itu ia berjanji takkan pernah membiarkan emak menangis lagi. Akan ia lakukan apapun untuk membuat emak bahagia. Janji itulah yang membuatnya semangat menjalani hidup. Tak peduli apapun asal emak bahagia, ia rela melakukannya.

Tentu saja ia curiga saat Pak Karta melamar emak. Ia takut kejadian yang lalu akan menimpa emak. Tahun-tahun telah berlalu, Pak Karta memperlakukan mereka dengan sangat baik. Kecurigaan yang selama ini ia pendam mulai menghilang, bahkan kini tak segan memanggilnya Bapak. Ia bersyukur dipertemukan dengan Pak Karta.

Permintaan emak tadi malam tentang perjodohan dia dengan Sarah kembali mengusik pikirannya. Tapi kini ia lebih tenang. Melihat persoalan dengan hati yang lebih dingin, bukan dengan emosi yang meledak-ledak seperti tadi malam. Peristiwa di pasar tadi cukup membuatnya tersadar.

“Kemana saja kamu? Tega-teganya kau pergi tanpa bilang-bilang. Lihat! Emak semalaman menangis menunggumu,” suara ketus Dita sesaat Aryo memasuki rumah.

Aryo bergegas menemui emak. Segera diraihnya tangan emak, ia bersimpuh sambil mencium tangan wanita yang sangat dihormatinya.

“Maafkan aku Mak. Maafkan Aryo.”

Wanita itu mengusap lembut kepala Aryo. Pipinya yang sudah keriput masih bersisa air mata semalam. Air mata emak, bagaikan sebuah belati yang mengiri-iris hati Aryo.

“Mak, Dita pulang dulu kalau begitu.” Dita segera meninggalkan ruangan itu dengan gontai. Diam-diam ia menangis. Sudah semalaman ia menemani emak. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti saat emak ingin menjodohkan Aryo dengan Sarah. Sesungguh bukan persoalan mengerti atau tidak, tapi ia sangat kecewa dengan keputusan emak. Hatinya remuk redam karena cintanya tak mungkin bersatu dengan Aryo.

******

“Mak, aku bersedia melakukannya,” kata Aryo pelan.

“Emak tidak ingin memaksamu. Kami serahkan semua keputusannya padamu. Jangan kau ambil keputusan demi emak, tapi pikirkan juga dirimu. Masa depanmu, karena kaulah yang menjalani.”

“Sudahlah Mak. Semalaman Aryo sudah pikirkan masak-masak. Aryo bersedia melakukannya Mak.”

 

 

 

 

SEMBILAN

mawar-hitam1

KEPUTUSAN

Angin bertiup ramah, menerbangkan anak-anak rambut Dita. Menari-menari tanpa arah. Ada kalanya bergerak ke kiri kemudian ke kanan tak beraturan. Wajah Dita semakin keruh, cerminan suasana hatinya. Ada yang menggenang di sudut mata. Kami terdiam, larut dalam senja yang semakin menghitam.

Aku tahu, keputusan yang aku ambil ini sangatlah berat. Bukan hanya bagiku tapi juga bagi Dita. Bertahun-tahun kami bersama, melewati pahit getirnya kehidupan . Saling mengisi dan saling menguatkan. Masa kecil yang begitu keras, memaksa kami dewasa sebelum waktunya. Tawa dan tangis datang silih berganti.

Di bibir pantai ini kami membisu. Membiarkan kekosongan diantara deburan ombak. Memberi jeda pada hati yang bergejolak. Aku sangat menyayangi Dita, meskipun tak pernah aku ucapkan. Aku tahu, perasaan Dita pun demikian adanya. Bahkan, kata tak perlu diucapkan, gerak sikap kami telah lama mengungkapkan. Bagi kami kata-kata cinta itu telah lama diterjemahkan. Hati kami telah menyatu. Sudah bertahun-tahun ujian hidup menghadang, dan kami melewatinya dengan saling bergandengan tangan. Sampai hari ini dan aku menyerah.

“Bagaimana pendapatmu?” ucapku pelan, suaraku hampir hilang ditelan ombak.

Dita diam membeku. Hati dan pikirannya beriak tak tentu arah, tapi tak sepatahpun kata terucap.

Aku terus menunggu sepotong kata darinya. Tapi sepertinya dia tahu, apapun yang akan diucapkan bakal berakhir sia-sia. Keputusan yang aku ambil takkan mungkin diubah. Aku terikat oleh janjiku sendiri.

Dita diam-diam menangis, melepaskan sesak dalam dada. Sekuat tenaga aku mencoba menahan air mataku juga. Senja ini terlalu pilu diceritakan.

***

Jam berdetak pelan, malam masih saja muda. Tumben-tumbenan Emak mengajakku bicara. Raut wajahnya sangat serius. Pak Karta hari ini belum kelihatan. Sedari tadi belum pulang, mungkin sengaja memberi kesempatan kami untuk berbicara.

“Ada apa Mak? Kok keliatannya ada hal penting yang mau diomongin?”

Emak terdiam saja, ia hanya menunduk. Membuatku semakin penasaran. Mata Emak sedikit berkaca-kaca.

“Emak kenapa? Apa Mak sakit? Atau ada yang nyakitin Emak? Katakan Mak siapa orangnya? Jawab Mak! Jawab Mak!”

“Ario, Emak boleh minta sesuatu?”

“Apapun Mak, apapun itu bakal aku penuhi”

“Kau tahu, sudah setahun peristiwa itu terjadi. Selama itu pula Bapakmu berkali-kali mengunjungi ke tempat Pak Burhanuddin. Persahabatan mereka sangatlah kuat. Bapakmu terus mendampingi dan memberikan semangat pada mereka. Menguatkan dan menyembuhkan luka. Tapi tidak semua luka itu bisa sembuh seluruhnya. Ada bagian-bagian tertentu menjadikan luka itu semakin parah.”

Pandangan Emak menerawang jauh melewati jendela.

“Peristiwa perampokan itu, sangat memukul keluarga Pak Burhanuddin. Kalau sekedar harta, itu tidaklah seberapa. Tapi, peristiwa yang menimpa Sarah, benar-benar menghancurkan mereka. Betapa luluh lantak perasaan mereka. Apa yang mereka rasakan, juga dirasakan Bapakmu. Sarah sudah seperti putrinya sendiri.”

“Sejak peristiwa itu, Sarah sudah benar-benar kehilangan semangat hidup. Kasihan anak itu. Penderitaan bertubi-tubi dialaminya. Belum pulih kondisinya kehilangan Andre, tiba-tiba saja muncul peristiwa itu. Bisa kau bayangkan betapa hancur perasaannya? Sudah beberapa kali keluarga Pak Burhanuddin mencegah Sarah bunuh diri. Berkali-kali Bapakmu memberikan semangat, tapi semua rasanya sia-sia saja.”

Aku terdiam. Peristiwa perampokan itu memang menghancurkan keluarga Burhanuddin, terutama Sarah. Saat aku kesana, Sarah memang terlihat sangat terpukul. Wajahnya kian layu. Tubuhnya semakin kurus dan tak terurus. Sering kali ia nampak termenung.

Fatimah, ibu Sarah, juga sangat terpukul. Kondisi Sarah membuatnya limbung. Daya tahannya semakin lama semakin melemah. Sudah dua bulan ini ia terbaring lemah. Pak Burhanuddin semakin kelimpungan merawat keduanya. Usaha perkebunannya menjadi kurang terurus.

“Nak ….” suara Emak bergetar.

“Iya Mak.”

“Mungkin permintaanku ini sangat berat. Tapi….inilah saatnya kita membalas semua kebaikan Bapakmu.”

Bapak, begitulah aku memanggilnya. Dialah yang mengangkat kehidupan emak dan aku. Bukan hanya kami, tapi kehidupan Dita dan ibunya juga terangkat. Bapak sangat baik kepada kami. Bapak mengajarkan ketegaran dan kasih sayang itu sebenarnya seiring berjalan. Bukan hanya dengan kata, dengan perbuatan. Dia tak pernah membeda-bedakan siapapun, meskipun aku hanya anak tiri, dia memperlakukanku tak ubahnya anak kandung.

“Aku ga ngerti Mak. Apa maksud dari perkataan Emak tadi?”

“Kau kan tahu apa arti keluarga Burhanuddin bagi Bapakmu kan? Merekalah yang menyelamatkan Bapakmu saat terpuruk. Kebaikan mereka telah membuat Bapakmu seperti saat ini. Apa yang terjadi dengan keluarga mereka, Bapakmu juga sangat terpukul.”

“Sudah sewajarnya bukan kalau kita ikut meringankan beban Bapakmu dan keluarga Burhanuddin?”

“Iya Mak, sudah sewajarnya begitu. Terus apa yang mesti kita lakukan?”

“Sudah sebulan ini kami berpikir, saling berdiskusi. Mencoba mencari segala cara untuk membantu mereka. Mungkin apa yang kami putuskan ini, terasa sangat berat. Bukan hanya bagi kami, tapi bagimu juga.”

“Aku? Memangnya ada apa denganku?”

“Kami berpikir …………… ingin menjodohkamu dengan Sarah.”

Aku tersentak. Terkejut dengan pernyataan Emak. Menjodohkanku dengan Sarah?

“Kami tahu, ini sulit bagimu. Tapi kami tidak ingin memaksamu. Semuanya terserah padamu, setuju atau tidak, kami serahkan kepadamu.”

Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Emak ingin menjodohkan dengan Sarah? Benarkah ini? Aku memang mengenal Sarah. Dia memang anak yang baik, tapi itu bukan masalahnya. Hatiku telah ada yang memiliki. Pernikahan itu bukanlah sesuatu hal yang mudah. Seharusnya, pernikahan itu dilakukan bukan atas nama kasihan, balas budi atau sebagainya. Pernikahan itu penyatuan dua hati, saling mengisi dan menerima. Bukan seperti ini seharusnya.

Pikiranku mulai buntu. Begitu gegabah Emak memutuskan menjodohkanku dengan Sarah. Aku punya kehidupan sendiri. Aku punya mimpi sendiri, bukan seperti ini. Seenaknya orang memutuskan masa depanku.

Malam itu kupacu motorku menerjang kegelapan. Tak jelas ke arah mana, dan aku tak perduli. Aku ingin menjauh dari semuanya.

 

 

 

 

 

 

 

DELAPAN

mawar-hitam1

          TRAGEDI

  Entah kenapa malam ini terasa sangat berbeda. Bulan mengintip dari balik dedaunan. Sinarnya remang-remang menembus awan. Suara burung bernyanyi dengan paraunya. Dari balik jendela Sarah merasa gelisah. Hatinya tidak tenang. Perasaannya bercampur baur, entah apa yang bergejolak dalam pikirannya.

Sudah dua minggu ia menghabiskan waktunya dirumah. Liburan semester. Peristiwa kecelakaan Andre, membuatnya kehilangan semangat hidupnya. Liburan ini ia sengaja menghabiskan waktu di rumah. Ia mencoba menata kembali hatinya.

Malam ini terasa sangat menyesakkan. Ia gelisah tanpa tahu alasannya. Padahal beberapa hari ini ia sudah merasa tenang. Pertemuan dengan Karta dan pulang ke rumah, sedikit demi sedikit membuatnya kembali menyalakan semangat hidupnya. Kasih sayang orang tuanya telah perlahan membuatnya tenang. Ia tidak sendiri menghadapi semua cobaan ini.

Hari semakin kelam, namun gelisah ini semakin menyergap hati Sarah. Dicobanya memejamkan mata. Tapi semakin dipaksa, mata ini semakin susah dipejamkan. Sarah menyalakan televisi. Satu persatu chanel diganti-ganti. Mungkin saja ada acara yang bisa menghiburnya. Tapi percuma, tak ada satupun acara yang menarik. Sarah memasang headset kemudian memutar lagu-lagu dari mp3 playernya. Volumenya sengaja ia kencangkan, lumayan bisa menghilangkan sedikit kegelisahan hatinya. Sarah pun terlelap.

Tiba-tiba tubuh Sarah terasa berat, sesuatu menindihnya. Tangannya terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia ingin berteriak, tapi sesuatu telah menyumpal mulutnya. Sesosok tubuh menindihnya. Sepasang tangan menggerayangi tubuhnya. Sarah berusaha berontak, tapi sia-sia saja. Kedua tangannya terikat di ujung ranjang. Deru napas tubuh itu terus memburu. Sarah mencoba melawan tapi sia-sia belaka. Tubuhnya merasakan kesakitan yang amat sangat. Kesadarannya mulai limbung. Ia pun pingsan.

“Hoi! Apa-apaan kamu ini?” teriak satu suara. Dua sosok tubuh mendobrak pintu kamar Sarah.

“Lagi tanggung ini,” sahut sosok tubuh yang menindih Sarah.

“Bangsat kau! Cepat kita pergi sebelum ketahuan orang-orang!”

Sosok itu kemudian berdiri, rasa kecewa tergambar diraut wajahnya. Ia belum selesai melepaskan semua hasratnya. Cepat-cepat ia memaki celananya dan lari keluar meninggalkan Sarah yang pingsan.

Saat melewati ruang depan ia melihat sepasang suami istri tergeletak.

“Kang, kamu membunuh mereka?”

“Mereka belum mati. Cuma pingsan. Kamu memang bangsat! Perempuan saja di otakmu itu.”

Sosok itu terkekeh.

“Yan, kamu ambil barang dari kamar sebelah sana! Sedang kamu Wo, ambil barang dari kamar belakang. Dalam sepuluh menit kita harus pergi!”

Ketiga sosok itu segera bergerak cepat. Mengobrak-abrik kamar-kamar, mengambil barang-barang yang dirasa berharga. Dalam sepuluh menit mereka bergerak. Sesaat kemudian menghilang dalam gelapnya malam.